sadarlah

Saat orang ramai-ramai membicarakan korupsi yang dilakukan oleh segelintir penguasa di Indonesia, ternyata telah memberikan inspirasi bagi saya untuk mencoba mengais kedalaman makna dari tindakan tersebut. Seperti diakui oleh rekan sejawat saya, korupsi merupakan tindakan luar biasa enaknya. Bagaimana tidak, dengan tanpa mengeluarkan keringat, uang senilai tak terhingga dapat masuk ke nomor rekening, bahkan yang lebih enak lagi semua predikat sosial dapat dibelinya.

Pada awalnya saya bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya di Indonesia yang pertama kali melakukan korupsi dan ditiru oleh lainnya, siapa? Kenapa korupsi sangat digemari bahkan dicita-citakan sebagai media mempercepat kaya?

Korupsi selalu diidentikkan dengan mencuri, mengambil hak orang lain. Korupsi diartikan dengan mark up dana di luar batas yang seharusnya. Korupsi dimaknai sebagai tindakan mengambil hak orang. Setidaknya itu sementara pemaknaan orang atas istilah bernama korupsi. Sepertinya korupsi itu dosa besar. Pelakunya harus diapakan?

Dalam bedah buku NU Melawan Korupsi Kajian Tafsir dan Fiqh, yang digelar oleh Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur, Minggu (2/7), kemarin, terungkap makna baru korupsi. KH Mohammad Masyhuri Naim selaku penanggung jawab penyusunan dan penerbitan buku menyampaikan arti lain korupsi.

Dikatakan Naim, korupsi memiliki beragam makna, diantaranya adalah suap. “Antara korupsi dengan suap kan berbeda secara substansial, yakni suap bermakna memberi. Sementara korupsi mengandung makna mengambil,” kata Naim yang juga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu.

Akan tetapi, lanjut Naim, keduanya kini berjalan beriringan. Untuk mendapatkan sesuatu seringkali orang melakukan suap.

Sementara, Zainuddin memaknai korupsi sebagai gaya hidup dan krisis. “Korupsi menjadi gaya hidup yang disebabkan oleh krisis diantaranya mencakup moral, sosial, ekonomi, dan politik,” tambah Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya itu.

Bahwa tindakan korupsi menurut Dedy Priambudi tergolong extra ordinary crime, sehingga ia sepakat dengan adanya penanganan ekstra dalam hal ini. “Akan tetapi hingga kini belum ada pembenaran secara agama,” ujar mantan Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya tersebut.

Mengiyakan Dedy, Naim menyepakati terapi terberat bagi pelaku korupsi lengkap dengan landasan hukumnya.

Makna korupsi, sesungguhnya bergantung persepsi. Demikian halnya dengan penanganan korupsi. Meminjam istilah Ali Maschan, harus ada empat hal yang beriringan yakni substansi hukum, struktur hukum, sumber daya manusia, dan budaya hukum.

Mungkinkah pelaku korupsi (koruptor) sepadan dengan pendusta? Apabila memang begitu, mencuri iman seorang pendusta agar kembali kejalan yang benar merupakan suatu keharusan.

kerokan

Tanda-tanda koruptor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: